Bercerminlah...

Kisah ini merupakan kisah nyata dari seorang sahabat.. entah berapa kali ia berkhianat sampai pada akhirnya...

* * *

Istri saya seorang insinyur. Saya mencintai sifatnya yang alami, apa adanya dan menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya berada dalam pelukannya,, layaknya pelukan seorang ibu. Setelah tiga tahun dalam masa perkenalan dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui bahwa saya mulai merasa lelah...

Alasan-alasan saya mencintainya dahulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Istri saya seorang yang kuat,, tidak peka. Sosok wonder woman modern. Mungkin memang seperti itu karakter anak teknik. jujur saya menginginkan sosok yang lembut dan keibuan..

Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan pada dirinya. Istri saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Lebih cenderung kaku, walau saya tau dia sangat baik, sangat. Namun, Ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

………


Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

………

“Mengapa suamiku ?”, dia bertanya dengan terkejut. Saya melihat bulir air menggenang di sudut matanya. Ternyata dia tetap wanita yang kembali pada fitrahnya.

“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa menjadi wanita yang saya inginkan”.
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan laptopnya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan proyeknya, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seharusnya wanita tidak berkarakter seperti ini. Mana kepekaanmu duhai istriku?

Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu suamiku?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,
“Saya punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati, saya akan merubah pikiran saya “.


“Sayang, seandainya saya menginginkan sesuatu yang kamu sendiri tau, bahwa kamu tak akan pernah bisa melakukannya, mungkin kamu akan celaka atau mati apabila melakukannya. Tetapi saya tetap meginginkan hal itu. Apa yang dapat kamu perbuat untukku?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Benar benar sosok wanita perkasa, tanpa ada kelembutan dan respon..

Keesokan paginya, ketika saya bangun, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang tersaji untuk saya. Disitu tertulis …

“Suamiku, saya tidak akan pernah melakukan hal itu untukmu tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya”.

-- Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya, namun saya melanjutkan untuk membacanya --

“Suamiku pernahkah kamu tau apa yang saya lakukan untukmu, hingga kau berkesimpulan bahwa saya tak pantas untukmu?

“Saat kamu pulang terlambat kerja, sayalah yang menunggumu dengan gelisah dan khawatir sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

“Saat kamu masih tertidur lelap, diantara pekerjaan saya yang menumpuk sayalah yang bangun jauh lebih awal, membereskan semua perlengkapanmu, menyempatkan diri memasak agar kamu bisa tersenyum melihat semuanya sudah tersedia untukmu saat membuka mata.“

“Saat kamu telah tertidur lelap, saya yang selalu bangkit dari tempat tidur, dan berharap menjadi orang pertama yang selalu menyebut namamu dalam tiap munajat malamku,”

“Saya yang selalu mengecup keningmu, menatapmu lekat lekat saat kamu tertidur pulas dan bersyukur atas karunia Tuhan yang diberikan kepada saya, seorang suami yang saya cintai.“

“Saya yang selalu mendahulukan kepentinganmu,, pernahkah sekalipun dalam pernikahan kita saya menolak permintaanmu? Pernahkah dalam pernikahan kita saya membantahmu? Saya yang selalu berusaha untuk tidak menuntut apapun darimu,karena saya tidak menginginkan hatimu kecewa dengan permintaan permintaan saya.“

“Saat kamu kelelahan tanpa banyak bicara saya yang memberikan tangan untuk memijatmu walau saya tau saya juga merasakan kelelahan yang meremukkan badan.”

“Kamu yang selalu menatap komputermu dari pagi hingga malam, membaca buku sambil tidur dan itu semua tidak baik untuk kesehatan matamu saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah.”

”Tetapi sayangku, saya tidak akan melakukan apa yang kamu pinta untuk celaka atau untuk mati. Karena saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kepergianku.

"Sayangku, saya tahu ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari apa yang dapat saya lakukan untukmu. Ada banyak orang yang sanggup menawarkan semua yang lebih baik dari saya."

"Saya memang bukan wanita lembut yang selalu ada dalam impianmu, tapi percayalah apa yang saya persembahkan untuk mengabdi padamu telah mengalahkan semua kelembutan yang wanita lain miliki."

"Pengabdian yang benar benar tulus untukmu suamiku. Pengabdian yang benar benar dari hati, mengalahkan semua kepalsuan yang orang lain tampakkan. Namun jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, tubuhku, hatiku dan mataku tidak juga cukup bagimu, maka saya tidak akan bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, hati dan mata lain yang dapat membahagiakanmu “.

-- Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya --

” Sayang, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri didepan menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas sayangku, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barangku, dan saya tidak akan mempersulit hidupmu. Jika kamu sudah benar benar tidak menginginkan perempuan ini mendampingi hidupmu dan membesarkan anak anakmu. Saya akan pergi dengan penuh keilkhlasan dan selalu berharap semoga engkau selalu bahagia. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.“

Seketika saya berlari keluar, dan memeluk perempuan kuat yang jauh memiliki kelembutan hati dari wanita manapun yang pernah saya temui. Saya mencintainya, dia seseorang yang tulus mempersembahkan hidupnya untuk mengabdi padaku. Lirih dalam pelukan saya,, istri saya berkata,

“Cintai saya apa adanya suamiku, karena saya tidak akan menuntut apapun darimu “…

-- seketika itu juga aku menyesal telah membuatnya menangis --


* * *


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

4 Response to "Bercerminlah..."

  1. Anonymous Says:
    March 22, 2011 at 6:27 AM

    ya, begitulah laki-laki yang nggak bisa melihat dan merasakan hati seorang wanita.. payah..

    “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa menjadi wanita yang saya inginkan”

    bagi wanita, itu termasuk kata-kata yang sangat tajam.. mudah-mudahan Sc nggak pernah denger kata-kata itu dari siapapun..

  2. SAKIKO CHASE says:
    March 22, 2011 at 7:01 PM

    Amien... knp pakai Anonymous? hihihi :)

  3. Woy ow says:
    April 3, 2014 at 1:23 AM

    must say that overall I am really impressed with this blog. It is easy to see that you are passionate about your writing. If only I had your writing ability I look forward to more updates and will be returning
    dewa-sbobet.com

  4. Shinta says:
    July 20, 2014 at 8:38 PM

    Woy: thanks.. for your comment. I'll visiting your blog.. nice to see your blog :)

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

Google Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch